Alih fungsi lahan pertanian maupun ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Batu dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini menunjukkan peningkatan. Hal itu ditandai dengan beralihnya lahan pertanian dan RTH menjadi hotel, tempat wisata, dan perekonomian modern.

Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (Walhi Jatim) Purnawan Dwikora Negara, Selasa (16/10) mengatakan, alih fungsi lahan ini akan berdampak terhadap lingkungan seperti ancaman bencana banjir dan tanah longsor.

“Walhi melihat Kota Batu berada diambang kerusakan ekologis yang kritis akibat perusakan dan penjarahan ekologi. Apalagi selama ini kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot Batu) cenderung mengarah ke echo destructive dan echo blunder. Artinya, pemerintah setempat diantaranya mengizinkan berdirinya hotel dan wisata di kawasan konservasi hutan,” jelasnya.
Sementara wilayah Batu, lanjut dia, selama masa penjajahan kolonial Belanda dikenal sebagai Swiss kecil, dimana penataan wilayah perkotaan fokus terhadap pertanian dan agrobisnis termasuk wisata yang ditata dan dikelola sebagai wisata alam yang menonjolkan hawa sejuk, panorama alam pegunungan, dan kekayasaan hayati di kawasan lereng Gunung Arjuna.

Sehingga wisatawan yang datang ke Kota Batu mencari wisata alam bukan buatan (artificial). Namun fenomena yang berkembang saat ini Kota Batu bermunculan wisata yang menawarkan wahana permainan maupun pertunjukan satwa yang bertentangan dengan upaya konservasi.
“Sedangkan Batu merupakan daerah atas atau kawasan tangkapan air dan menjadi kawasan hulu Sumber Brantas yang melintasi 14 kota dan kabupaten sepanjang 3.200 kilometer (km),” terangnya.

Sehingga, kata Purnawan, jika terjadi kerusakan lingkungan yang tidak terhentikan, maka akan mengancam kelestarian sumber air di kawasan tersebut. Mengingat saat ini dari 110 sumber mata air yang ada kini tinggal tersisa 53 mata air saja.

Untuk itu, Walhi berharap, Wali Kota Batu Eddy Rumpoko, yang juga baru terpilih sebagai Calon Walikota (Cawali) periode 2012-2017, nantinya tidak mengulangi kebijakan masa lalu dan bisa menjadi teladan dalam mengangkat nilai konservasi dan menyelamatkan lingkungan di Kota Batu.

“Karena masyarakat Kota Batu menginginkan birokrat yang biokratis dan peduli terhadap lingkungan dengan menjaga konservasi kawasan lindung di wilayah Kota Batu,” tandasnya.
Secara terpisah, Wali Kota Batu Eddy Rumpoko menyatakan, dirinya berjanji akan lebih mengutamakan desa wisata dan sektor partanian untuk dikembangkan menjadi tujuan pariwisata. Dimana potensi di setiap desa yang ada bakal digali dan ditawarkan kepada para wisatawan. Sehingga dengan menampilkan berbagai produk pertanian, maka wisatawan bisa melihat proses produksi pertanian, serta bisa menginap di rumah penduduk.

“Selain itu, juga disajikan kesenian penduduk setempat sebagai hiburan wisatawan,” tegasnya. [cyn]

(c) harianbhirawa.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *