Lenyapnya Impun dan Kelapa: Bagaimana PLTU Mengancam Ruang Hidup Rakyat

[youtube height=”600″ width=”800″]https://www.youtube.com/watch?v=AmgWoNM7i9g[/youtube]

 

Harga batubara terus anjlok karena melemahnya permintaan pasar. Produksi batubara Indonesia, pada tahun 2014 untuk pertama kalinya sejak tahun 1997, turun 8% dibandingkan dengan 2013 produksi (39 juta ton).

Karena harga yang lebih rendah dari batubara internasional, pemerintah dan industri batubara sedang mencoba untuk mengalihkan alokasi batubara lebih ke penggunaan domestik. Bappenas mengatakan pada 2019, produksi batu bara akan dikurangi menjadi 400 juta ton dari tahun lalu (2014) produksi 420 juta ton, dengan alokasi domestik meningkat dari 15% (2014) menjadi 60% (2019). Dari 420 juta ton produksi saat ini, 15% digunakan di dalam negeri (70% dari itu digunakan untuk pembangkit listrik batubara).

Dalam rencana pembangunan jangka menengah 2015-2019, Pemerintah Jokowi telah mengagendakan tambahan produksi listrik sebesar 35.000 MW, terdiri dari 25.000 MW pembangkit listrik batubara. Program ini menjadi pengalih daya untuk mengimbangi melemahnya pasar ekspor batubara.

Dengan bertambahnya pembangunan pembangkit listrik berbasis batubara baru di Indonesia, bukan hanya akan meningkatkan dampak kesehatan pada masyarakat lokal dan emisi gas rumah kaca, tetapi juga perluasan permasalahan pertambangan batubara.

Film pendek ini merekam bagaimana masyarakat yang tinggal di sekitar proyek PLTU di Paiton-Probolinggo dan Pacitan, Jawa Timur, menghadapi dampak operasi PLTU. Mulai menurunnya derajat kesehatan lingkungan hingga generasi yang terpotong pengetahuan lokalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *