Peringati 11 Tahun Lumpur lapindo, Korban Lapindo Gelar Konsultasi Kesehatan Gratis

Semburan lumpur Lapindo yang terjadi pada 29 Mei 2009 silam kini sudah memasuki tahun ke sebelas. Dalam memperingati petaka luapan lumpur tersebut, para korban Lapindo yang tergolong dari komunitas Ojek tanggul, kelompok Belajar Ar-Rohma, dan Sanggar Al-Faz beserta kelompok korban yang lain pada hari sabtu (20/5) menggelar acara konsultasi kesehatan yang bekerjasama dengan Fakultas kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Acara ini di ikuti sekitar seratusan warga dari wilayah disekitar luapan lumpur Lapindo.

Konsultasi kesehatan ini dimulai pada Jam 09:15 dan selesai pada jam 12:05, kegiatan ini sendiri merupakan kelajutan hasil pemeriksaan melalui Medical Check Up di 2 rumah sakit untuk melihat dampak paling signifikan dari lumpur Lapindo terhadapa kesehatan selama kurun waktu 11 tahun ini.

Dari sejumlah warga yang diperiksa, rata-rata mengalami sakit darah tinggi namun tidak merasakan pusing sama sekali. “ini bahaya jika tidak merasakan pusing harus segera diobati di rumah sakit” tutur salah satu dokter ketika menjelaskan hasil pemeriksaan kepada peserta.

Setelah konsultasi kesehatan selesai, kegiatan kemudian dilanjutka dengan dskusi publik. Diskusi publik dimulai pada jam 13.00 yang dimoderatori oleh Rere Christanto (Direktur Eksekutif Walhi Jatim). Rere menjelaskan hasil pemeriksaan logam berat (Pb dan Cd) pada tahun 2016 kemarin rata-rata kandungan timbal dan cadmium diatas ambang batas yang diperbolehkan pada lingkungan. Pemeriksaaan logam berat ini berada di dua sungai Porong dan Sungai Aloo. Pemeriksaan pada sedimen air sungai Porong untuk Pb tercatat 100 kali libat lebih tinggi dari batas yang diperbolehkan dan untuk Cd 10 kali lipat dari ambang batas yang di perbolehkan.

Dalam pemeriksaan ligkungan tidak hanya memeriksa logam berat saja tetapi juga memeriksa udara di sekitar lumpur Lapindo. Pada 2016 lalu hasil uji coba eco checker yang di pasang di 5 titik (Glagaharum,Portal Tanggul titik 21,Makam Kyai Annas, Desa Candi Pari dan Kali tengah) menunjukkan rata-rata tingkat gas Chlorine yang sangat tinggi. Pengaruh Chlorine sangat berbahaya bagi sistem pernafasan manusia dan bahan bisa menyebabkan kematian jika terlalu lama menghirup Clhorine.

Dari 5 titik yang dipasang uji coba eco checker, hasil yang paling tinggi adalah di Pos Portal Titik 21 tanggul Lapindo dengan nilai rata-rata 97. Kondisi lingkungan yang buruk sangat berengaruh pada kesehatan manusia. Sampai hari ini tidak ada upaya proteksi untuk korban Lapindo untuk menjamin keselamatan dan kesehatan para warganya.
Dalam diskusi juga terungkap bahwa selama ini pemerintah tidak punya kajian sendiri terhadap kondisi lingkungan di wilayah porong. “Pemerintah harusnya memastikan tingkat kerusakan lingkungan akibat semburan lumpur Lapindo. Penurunan Kualitas lingkungan akan berpengaruh terhadap kesehatan warga yang tinggal disekitarnya. Untuk memastikan tingkat keselamatan lingkungan itulah pemerintah harusnya melakukan kajian secara berkala sehingga kita mengetahui perkembangan situasi di sekitar semburan lumpur Lapindo” tutur rere dalam diskusi.

Jaminan kesehatanpun juga dirasa masih sulit bagi korban Lapindo untuk menerimanya. Dalam kurun waktu 11 tahun hanya 250 jiwa dari 2 kelurahan yakni Siring dan Jatireji yang memegang jaminan kesehatan yang dibayar oleh pemerintah Daerah Sidoarjo dan masih banyak juga yang tidak menerima. Di desa Gedang juga ada teridentifikasi beberapa kali kejadian kematian mendadak dalam kurun waktu 1 bulan pada tahun 2016..

Diskusi kali ini akan berlanjut sebagai bagian konsolidasi di beberapa daerah di sekitar luapan lumpur untuk bersama-sama merencanakan adanya gerakan secara bersama menuntut pemulihan lingkungan dan jaminan kesehatan bagi warga korban Lapindo baik yang sudah pindah maupun yang masih tinggal di seputar wilayah semburan lumpur Lapindo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *