Melihat Tata Kelola Sampah di Surabaya dan Diskursus Zero Waste

August 11, 2021 0 By Walhi Jatim

Surabaya sendiri menjadi kota metropolitan terbesar di Jawa Timur yang memproduksi sampah cukup banyak. Mengutip dari berbagai sumber, total produksi sampah di kota ini sebesar 1.600 ton per hari, jika bersandar pada fakta yang ada di TPA Benowo. Sampah berlebih berdampak pada ekosistem sungai Brantas yang dipakai PDAM Surabaya. Lalu pada eksositem laut, karena aliran sungai Brantas bermuara di laut seperti Kenjeran.

Sistem “open dumping” tak dapat diterapkan, karena tidak ada lagi lahan yang cukup luas untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Beberapa TPA open dumping telahditutup, yaitu 1). TPA di  lakarsantri seluas 8.3 hektar telah tutup, terlalu penuh; 2). TPA Keputih Sukolilo seluas 40 hektar ditutup juga karena diprotes warga, diduga mengakibatkan pencemaran lingkungan, sebagai dampak sistem timbun sampah (landfiil). Maka yang tersisa hanya TPA Benowo yang menampung 1.600 ton sampah, sementara PT. Sumber Organik sebagai pengelola hanya mampu mengelola sampah 1000 ton perhari.

Merujuk Peraturan Daerah (Perda) Kota Surabaya tentang Pengelolaan Sampah dan Kebersihan di Kota Surabaya No 5 tahun 2014. Pemkot mulai merancang program “zero waste” seperti rumah kompos dan bank sampah Surabaya. Upaya itu belum maksimal, karena rumah kompos dan bank sampah tidak berjalan dengan baik selain terbatas unitnya, juga tidak menjangkau wilayah Surabaya yang luas.

Selain itu ada inovasi Bus Suroboyo, transportasi publik yang untuk menaikinya kalian harus membayar dengan sejumlah botol plastik. Satu kali perjalanan membutuhkan 10 gelas air plastik atau 5 botol plastik ukuran 500 ml atau 3 botol plastik ukuran 1000 ml. Tidak efektif, karena seseorang untuk menaiki harus mencari botol plastik atau membelinya, tujuannya untuk mengurangi tetapi praktik mendorong orang konsumsi. Selain itu botol plastik yang disetor juga belum jelas pengelolaannya.

Solusi terbaru adalah membuat PLTSa yang merupakan proyek strategis nasional. Listrik dari sampah dengan metode gasifikasi. Metode ini membutuhkan suhu lebih dari 600 derajat celcius dengan incenerator untuk memanaskan sampat padat. Selain syngas (gas sintetik), gasifikasi juga menghasilkan material padat dan cair yang kemungkinan besar mengandung zat beracun yang tinggi seperti dioksin dan furan. Gasifikasi juga menghasilkan limbah arang (slag) dan abu (ash) (Global Alliance for Incinerator Alternatives 2017).

PLTSa tidak menyelesaikan persoalan sampah malah menambah persoalan. Jika berhasil menghasilkan listrik, maka akan membutuhkan sampah terus menerus sebagai bahan baku. Sementara sampah dari konsumsi harian. Berarti untuk tetap menghasilkan listrik, maka membutuhkan sampah terus menerus. Apakah sampah berkurang? Tentu tidak, coba tanyakan pada pencetus ide PLTSa.

Lalu apa yang dapat dilakukan?
1. Menerapkan Zero Waste, yakni reduce, reuse dan recycle. Reduce, kurangi sampah. Reuse, gunakan lagi jika masih bisa. Recycle, daur ulang.  Dapat melalui regulasi dan kebijakan, serta membentuk rumah-rumah kompos dan bank sampah di tiap kampung beserta penyuluhnya.
2. Pendidikan ke masyarakat hingga level bawah dan ke sekolah-sekolah untuk menerapkan prinsip 3R.
3. Memaksa produsen sampah plastikdan retail untuk mengurangi produksi sampah plastik. Ini dapat dilakukan dengan memberlakukan kantung pengganti yang dapat digunakan berkali-kali.
4. Mulai dilakukan pelan-pelan dengan melibatkan masyarakat. Karena kegagalan program selalu berkaitan dengan pengambilan keputusan yang top-down dan tidak partisipatif, sehingga tidak melihat kekhususan wilayah yang problem sampahnya beragam.

Catatan lengkapnya dapat kalian baca di buku kecil kami yang berjudul “Melihat Tata Kelola Sampah di Surabaya dan Diskursus Zero Waste.” di link berikut: https://bit.ly/ZeroWasteSBY