Thu. May 19th, 2022

PERSEPSI GENERASI MUDA TERKAIT ENERGI KOTOR BATUBARA DAN PLTU

Muhammad Dean, Muhammad Bimo, Raden Luthfi & Viatus Frietz Deki

 

Batubara dijelaskan dengan memiliki banyak arti oleh para ilmuwan dari berbagai ilmu. Batubara diindikasikan sebagai benda yang tidak hanya berasal dari nabati maupun mineral, tetapi memiliki atribut dari keduanya (Schopf, 1956). Dari sini bisa diketahui bahwa pendefinisian dari batubara masih menjadi hal yang terus dikaji. Hal ini tentunya mengarah adanya keterhubungan dengan perspektif dari orang-orang yang mendefinisikan tentang batubara. Oleh karena itu, esai ini menjadi petunjuk untuk melihat perspektif masyarakat, khususnya dari perspektif mahasiswa. Hal ini dikarenakan kami ingin mengukur seberapa besar pengetahuan mahasiswa mengenai batubara, dan dari mengukur seberapa besar pengetahuan mahasiswa mengenai batubara, kami dapat memetakan dampak-dampak yang dihasilkan dari eksistensi batubara di Indonesia. Perspektif ini menjadi penunjuk sikap dari masyarakat.

Dalam memenuhi segala kebutuhan dan aktivitas sehari-hari, manusia memerlukan listrik sebagai penopang hidup mereka. Semasa pandemi Covid-19, kebutuhan manusia terus bertambah karena banyaknya aktivitas yang dilakukan secara work from home maupun aktivitas lain yang cenderung terbatas sehingga menyebabkan penggunaan listrik di rumah mereka juga bertambah. Hal ini terlihat pada konsumsi listrik yang bertambah 5.46% selama pandemi (Rahma, 2020). Sayangnya, pertumbuhan kebutuhan manusia di kala pandemi tersebut tidak diimbangi dengan jumlah ketersediaan listrik yang mumpuni. Sumber energi listrik yang salah satunya berasal dari pembangkit energi uap (PLTU) sangat terbatas. Hal ini dikarenakan batubara sebagai sumber dari PLTU merupakan sumber daya alam tidak dapat diperbarui.

PLTU Paiton merupakan PLTU terbesar yang ada di negara Indonesia. Adapun luas dari PLTU ini sebesar 400 hektare dan tidak hanya menjadi PLTU terbesar di Indonesia, melainkan juga terbesar di wilayah Asia Tenggara (Nurmayanti, 2019). Adapun PLTU Paiton ini merupakan anak perusahaan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). PLTU ini sudah berdiri sejak 27 tahun silam dan menjadi PLTU yang mengaliri listrik di wilayah pulau Jawa dan Bali (Nurmayanti, 2019).

Melihat sepak terjang dari PLTU Paiton yang sudah beroperasi dari tahun 1994 silam, tentu terlintas sebuah pertanyaan kritis perihal besar jumlah ton batubara yang dibutuhkan tiap harinya guna mengaliri listrik di pulau Jawa dan Bali. Sedikit banyak proses pembakaran batubara untuk kebutuhan listrik tentu akan sangat berdampak kepada masyarakat dan lingkungan sekitar. Terlebih, sudah beberapa banyak artikel dalam jurnal seperti (Zhang et al., 2020), (Amster & Lew Levy, 2019), dan (Kravchenko & Lyerly, 2018), yang membahas dampak negatif dari kegiatan tambang batubara untuk kebutuhan supply energi. Sehingga mengacu dari tujuan pembuatan esai, kami juga akan mengukur pengetahuan mahasiswa tentang PLTU, yang secara khusus mengarah pada PLTU Paiton sebagai PLTU terbesar dan memiliki peran penting dalam proses aliran listrik untuk wilayah Pulau Jawa dan  Bali.

Persepsi Generasi Muda

Catatan ini dimulai dengan melakukan penyebaran angket atau semacam survey kepada para mahasiswa yang berdomisili atau sedang melakukan pembelajaran universitas yang ada di Provinsi Jawa Timur. Angket yang disebarkan ini merupakan angket yang dibuat dari Google Form, sehingga dapat diakses oleh narasumber. Angket ini dijawab dan diisi oleh narasumber yang merupakan 87 Mahasiswa dengan penyebaran di Provinsi Jawa Timur. Narasumber ini tentunya berisikan dari berbagai macam universitas, dan jurusan. Jumlah narasumber yang berasal dari jurusan saintek hampir seimbang dengan jurusan soshum. Hal ini dilakukan agar dapat menjaring persepsi secara lebih menyeluruh. Tentunya asal universitas masih sangatlah terpusat di daerah Malang, tetapi hasil angket tersebut dianggap sebagai persepsi mahasiswa secara umum di Provinsi Jawa Timur. Narasumber angket tidak hanya terfokuskan pada satu angkatan, tetapi berasalkan dari berbagai angkatan pembelajaran. Selain itu, angket ini diperlukan sebagai bentuk untuk melihat lebih dalam persepsi masyarakat, terkhususnya anak muda dalam lingkup mahasiswa, mengenai batubara, PLTU, dan PLTU Paiton. Hasil angket ini kemudian menjadi menghasilkan sebanyak 6 narasumber yang diundang sebagai narasumber FGD. Pemilihan 6 narasumber ini menjadi narasumber FGD dengan melihat dari jawaban yang diberikan melalui angket.

Mengacu dari pelaksanaan kegiatan Focus Group Discussion, peserta FGD dibagi dua sesi. Sesi pertama diisi dengan peserta FGD yang kami anggap mengetahui terkait dengan isu yang kami angkat, yaitu batubara, PLTU, dan PLTU Paiton. Sesi kedua diisi dengan peserta FGD yang kami anggap sedikit mengetahui mengenai isu yang kami angkat dan memiliki jawaban yang menarik saat pengisian angket. Adapun proses kegiatan dalam sesi pertama peserta FGD cenderung memberikan jawaban yang out of the box. Pada sesi pertama ini, jalannya kegiatan FGD lebih interaktif sehingga terdapat beberapa jawaban yang sekiranya menarik. Kemudian, peserta FGD di sesi dua cenderung hanya menjawab pertanyaan yang dilontarkan dengan pengetahuan yang mereka miliki. Pada sesi ini, peserta FGD cenderung mencari aman dalam menjawab pertanyaan. Adapun yang diundang pada kegiatan FGD ini adalah mahasiswa dari rumpun saintek dan soshum yang sudah diidentifikasikan paham dan belum paham. Terdapat 3 laki-laki dan 3 perempuan yang menjadi peserta FGD, di mana 6 peserta FGD ini berumur 20-21 tahun.

Pandangan Anak Muda Soal Batubara

Pada bagian pertama ini, yang akan menjadi bahasan dalam esai merupakan Batubara. Hal ini dikarenakan Batubara merupakan sumber daya dari kebutuhan PLTU dalam menghasilkan produknya. Sumber daya ini menjadi sebuah simbolis denyut jantung yang kuat di dalam PLTU. Tanpa adanya Batubara tersebut, PLTU tentunya sulit dalam menghasilkan produknya dengan hasil produk penggunaan sumber daya Batubara. Hasil angket tentunya memiliki data yang menarik. Berikut merupakan bagan dari angket yang dibagikan kepada para mahasiswa:

Pada bagian definisi batubara, mahasiswa banyak yang menjawab batubara sebagai bahan bakar, dengan presentase 45 %. 23% merupakan angka dari banyaknya narasumber yang menjawab definisi batubara sebagai batuan sedimen. Narasumber yang memilih batubara sebagai sumber daya alam memiliki jumlah persentase 19%. Terakhir, 13% merupakan angka dari narasumber yang menjawab tidak termasuk dari ketiga hal tersebut. Bagan ini menggambarkan bahwa persepsi dari hampir setengah narasumber angket melihat batubara sebagai salah satu benda bahan bakar. Hal ini mempertunjukkan narasumber tersebut melihat batubara melalui fungsinya untuk dibakar.

Di sisi lain, jawaban narasumber yang melihat dari batuan sedimen ini, menjadi bentuk persepsi batubara dari wujudnya. Jawaban sumber daya alam, memperlihatkan bahwa persepsi narasumber menjadikan batubara sebagai bentuk hasil atau sumber yang berasal dari alam. Ketiga hal ini tentunya berbeda ketika dimaknai untuk melihat persepsinya. Hasil bagan ini, memperkuat dengan hasil dari Jurnal Economic Geology, dikarenakan jurnal tersebut menjabarkan definisi yang berbeda-beda dari setiap ilmuwan. Perbedaan itulah dijelaskan lebih dalam pada bagan ini dengan subyek dari para mahasiswa. Mahasiswa tersebut dapat mendefinisikan batubara berbeda-beda atas dasar perbedaan latar belakang dan pengalaman yang telah mereka alami, sama hal nya dengan ilmuwan yang mendefinisikan batubara berbeda-beda atas perbedaan konsentrasi ilmu.

Berikutnya para narasumber diberikan pertanyaan mengenai asal mula batubara terbentuk. Pertanyaan ini dibentuk dengan adanya pertanyaan lanjutan, dengan berada dalam bagian berbeda antar pertanyaan tersebut. Hal ini dilakukan untuk melihat lebih dalam perspektif sesungguhnya dari para narasumber. Perspektif ini dilihat tidak hanya secara jawaban langsung saja, melainkan melihat sifat tingkah laku dari narasumber. Berikut dapat dilihat bagan untuk pertanyaan pertama yaitu asal mula batubara:

Bagan ini memperlihatkan sebanyak 78% narasumber memilih asal mula batubara berasalkan dari tumbuh-tumbuhan. 13% narasumber memilih ledakan gunung berapi, dan 9% narasumber memilih dinosaurus. Hal ini mengindikasikan bahwa narasumber banyak melihat dan mempercayai bahwa batubara tercipta atas dasar tumbuh-tumbuhan, sedangkan narasumber lain memilih ledakan gunung berapi dan dinosaurus. Pada Jurnal Economic Geology, definisi dari batubara banyak diartikan dan diarahkan ke arah tumbuh-tumbuhan yang membatu. Secara jelas, dapat diartikan bahwa para narasumber memahami dan mempercayai bahwa melihat asal mula batubara berasal dari tumbuh-tumbuhan. Ada hal yang menjadi semakin menarik melihat dari pertanyaan selanjutnya. Pertanyaan selanjutnya merupakan pertanyaan “apakah batubara terbuat dari tumbuhan ?”. Pertanyaan ini menjadi pertanyaan untuk melihat dari sifat tingkah laku dari narasumber.

Pada bagan tersebut, memperlihatkan sebanyak 84% narasumber memilih ya terhadap batubara terbuat dari tumbuhan, sedangkan 16% narasumber mengatakan tidak terhadap batubara terbuat dari tumbuhan. Hal ini menjadi semakin menarik melihat adanya perubahan narasumber dalam menjawab asal usul batubara. Narasumber ini mengganti jawaban mereka ketika ditanyakan kembali kepastiannya batubara terbuat dari tumbuhan. Perubahan ini mengindikasikan bahwa narasumber tidak merasa yakin atas pengalaman dan pengetahuannya terhadap batubara, dengan adanya asumsi terhadap mereka, dikarenakan tidak mendapatkan ilmu mengenai batubara, tidak memiliki daya tarik untuk mempelajari lebih dalam, atau kebingungan terjadi atas ilmu/informasi terhadap batubara yang memiliki banyak definisi dari berbagai ilmu. Kebingungan ini menjadikan narasumber menjadi sulit untuk percaya, serta tidak memiliki daya tarik dalam mencari ilmu/informasi mengenai batubara. Hal ini menjadi salah satu kesempatan untuk semakin memberikan ilmu maupun informasi kepada masyarakat umum.

Pada hasil Focus Group Discussion ini, pandangan mahasiswa terhadap batubara, memperlihatkan batubara menjadi sebuah energi yang kotor apabila proses dan penggunaannya tidaklah sesuai dengan kebutuhan. Beberapa mahasiswa adanya keinginan menghilangkan atau menggantikan batubara dengan sumber daya yang dapat diperbarukan, atau bersih. Disisi lain, terdapatnya mahasiswa yang memiliki pandangan untuk memperbaiki proses dari batubara, agar dapat menjadikan batubara sebuah energi yang tidak terlalu merusak lingkungan maupun manusia. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan perbedaan ilmu yang sedang dipelajari, mengungkapkan ide maupun gagasan yang berbeda dalam menyikapi batubara sebagai energi kotor. Mereka secara umum meyakini bahwa penggunaan batubara sulit untuk dilepaskan secara 100%, tetapi dapat dikurangi penggunaan tersebut. Pandangan ini menimbulkan bentuk harapan adanya mahasiswa terhadap pola penggunaan energi kotor yang mulai beralih ke energi baru. Batubara dilihat dari perspektif ini masih memiliki unsur dibutuhkan, tetapi diharapkan dikurangi penggunaannya sebagai langkah untuk peduli terhadap lingkungan. Penggunaan batubara pun sebaiknya tidak digunakan sebesar – besarnya, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan yang ada.

Pandangan Anak Muda Soal PLTU

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) merupakan pembangkit yang mengandalkan uap yang panas untuk menggerakkan turbin sehingga dapat di konversi menjadi energi listrik. PLTU berdasarkan jenis bahan bakarnya terbagi menjadi tiga yakni batubara, minyak high speed diesel (HSD), dan minyak marine fuel oil (MFO) (Hamzah, 2019). Batubara merupakan bahan bakar yang umum digunakan pada pembangkit listrik termasuk PLTU, sedangkan minyak HSD merupakan BBM jenis solar dan berfungsi sebagai bahan bakar pembakar awal PLTU. Minyak MFO merupakan bahan bakar minyak juga dan difungsikan sebagai pembakar langsung di dapur industri. Pembangunan PLTU saat ini masih menuai pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar daerah PLTU. Listrik yang dinikmati masyarakat Indonesia saat ini juga berasal dari sumber daya tidak terbarukan yaitu batubara. Dampak-dampak pembangunan yang dirasakan pengoperasian PLTU yakni kehilangan mata pencaharian dan takut pembangunan PLTU akan merugikan dan mengotori daerah huni masyarakat yang tinggal dekat lokasi (Saputro, 2014).

Berdasarkan hasil FGD bersama mahasiswa-mahasiswa rumpun saintek dan soshum, hampir semua dari mereka menyatakan bahwa PLTU memberikan lebih banyak dampak negatif ketimbang positifnya. Selain itu, penggunaan PLTU di Indonesia juga memberikan dampak yang kurang menyenangkan bagi warga sekitar daerah PLTU tersebut. Dampak lingkungan yang dirasakan dengan adanya pembangunan PLTU yakni adanya pencemaran udara dan air yang sangat dirasakan oleh warga sekitar PLTU. Terkait rencana presiden akan penggantian PLTU menjadi PLTB yang ramah lingkungan juga tidak akan berpengaruh banyak jika rencana tersebut hanya ‘penggantian nama’ saja tetapi eksekusi nya sama dengan rencana-rencana sebelumnya. Meskipun demikian, sangat disayangkan dikarenakan keterbatasan maka kami tidak dapat mendapatkan persepsi mahasiswa yang tinggal disekitar PLTU untuk diajak berdiskusi. PLTU juga menyebabkan munculnya limbah B3 yang memberikan dampak negatif bagi manusia dan makhluk hidup lainnya terutama yang tinggal di sekitar PLTU. Dampak negatif yang dimunculkan oleh limbah B3 yakni membahayakan kesehatan manusia. Ada dua limbah PLTU yang masuk dalam kategori bahaya yakni fly ash dan bottom ash (Sabubu, 2020). PLTU juga menimbulkan dampak yang cukup mengkhawatirkan yakni adanya kerusakan ekosistem pada daerah sekitarnya.

Salah satu akibat dari meningkatnya populasi dan kebutuhan manusia terhadap listrik, dan terikat pada pembukaan lahan untuk PLTU adalah Deforestasi. Deforestasi adalah praktik yang dilakukan oleh manusia yaitu mengganti lahan produktif hutan menjadi lahan untuk kegiatan lain. Dilansir melalui media Kompas.com (2021), Jaringan Advokasi Tambang telah mencatat bahwa dalam 2 tahun terakhir (tahun 2019-2021) setidaknya terdapat peningkatan sebanyak 13% dalam urusan pembukaan lahan baru untuk keperluan tambang. Tidak menutup kemungkinan angka tersebut akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Persentase angka tersebut pula yang disinyalir sebagai penyebab terjadinya kerentanan bencana di wilayah Kalimantan, khususnya bencana banjir, karena makin sedikit daerah resapan air akibat digunakan untuk lahan tambang PLTU.

Persepsi Anak Muda Tentang PLTU Paiton

Mengacu dari hasil angket dan FGD yang sudah dilaksanakan, sebanyak 98% mahasiswa tidak mengetahui PLTU Paiton. Mahasiswa yang mengetahui tentang PLTU Paiton ini hanya tahu sekilas soal PLTU Paiton dan hal tersebut didapat melalui pengalaman pribadi mereka. Mahasiswa yang mengisi angket dan menjadi peserta FGD melihat eksistensi PLTU, dalam hal ini adalah PLTU Paiton, sebagai pembangkit yang dapat memberikan manfaat yang besar apabila dikelola dengan baik oleh pihak pengelola. Mereka cenderung melihat bahwa adanya PLTU, termasuk juga PLTU Paiton, di tengah masyarakat ini sebagai ajang untuk menguji komitmen dari pihak pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Adapun upaya yang paling penting dalam melihat komitmen pemerintah dan pengelola PLTU Paiton dalam menjaga kelestarian lingkungan menurut mahasiswa adalah dengan mengganti penggunaan batubara dengan energi lain yang lebih ramah lingkungan. Mahasiswa melihat bahwa dalam mengganti energi batubara ke energi yang lebih ramah lingkungan juga bisa menggunakan metode yang praktis dan efisien. Hal ini memiliki korelasi dengan potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai negara tropis, di mana angin atau panas matahari dapat dipertimbangkan untuk mengganti bahan batubara. Apabila mengacu dari PLTU Paiton, maka pengelola PLTU Paiton dapat menggunakan air laut sebagai pengganti batubara yang sering digunakan untuk kebutuhan operasional dari PLTU Paiton.

Kemudian, mahasiswa berpendapat bahwa media memiliki peranan yang penting dalam membentuk konstruksi masyarakat dalam melihat isu lingkungan, dalam hal ini menyangkut PLTU Paiton. Mahasiswa secara tidak langsung berpendapat bahwa media menjadi kepanjangan tangan dari pihak tertentu dalam menyebar arus informasi mengenai fenomena-fenomena yang berkembang di tengah masyarakat. Mahasiswa menemukan adanya ketimpangan pemberitaan oleh media mengenai PLTU Paiton.

Mereka melihat bahwa media seolah-olah sedang memberikan citra yang positif bagi eksistensi dari PLTU Paiton. Hal ini ditandai dengan banyak media yang melihat bahwa PLTU Paiton memberikan hal yang positif, baik bagi lingkungan sekitar maupun bagi masyarakat setempat. Mereka berpendapat bahwa media cenderung melihat fenomena dari hadirnya PLTU Paiton secara tidak utuh. Adapun pendapat ini berangkat dari hasil pengamatan yang bersangkutan saat sedang berada di PLTU Paiton, di mana kondisi disana cukup panas dan dia melihat bahwa terdapat pencemaran air yang disebabkan karena adanya tumpahan batubara dari PLTU Paiton itu sendiri. Kemudian, mahasiswa juga melihat disamping dari adanya dampak negatif yang dihasilkan dari eksistensi PLTU Paiton, juga terdapat dampak positif. Pihak pengelola PLTU Paiton juga perlu memastikan bahwa masyarakat nantinya mendapatkan keadilan dan tidak berlaku sewenang-wenang kepada masyarakat.

Berdasarkan persebaran dan analisis angket, sebanyak 95% responden tidak mengetahui bahwa PLTU Paiton memiliki atau sedang menjalankan program CSR yang ditujukan kepada masyarakat sekitar. Begitupun juga dalam hal ketepatan menjawab proyeksi tempat dari program CSR dari PLTU Paiton. Hanya 34 responden dengan persentase 39,4% yang menjawab benar, yaitu di Desa Selobanteng, Situbondo. Hal ini juga diperkuat melalui jawaban dari peserta FGD. Ketidaktahuan para responden angket dan peserta FGD tentang program CSR dari PLTU Paiton disebabkan oleh minimnya informasi tentang hal tersebut di media dan belum pernah merasakan dampak CSR PLTU Paiton. Pertanyaan tentang program CSR dari PLTU Paiton menjadi bagian yang cukup strategis dalam meninjau kedalaman pengetahuan mahasiswa tentang PLTU Paiton, serta mengambil persepsi mahasiswa atas implementasi CSR dalam sebuah perusahaan.

Posisi PLTU Paiton sebagai perusahaan energi memang bersifat krusial dan dilematis bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Peserta FGD sepakat bahwa PLTU Paiton sangat berperan penting dalam persebaran arus listrik di pulau Jawa dan Bali. Namun sebaliknya, proses yang dilakukan oleh PLTU Paiton juga dapat merusak lingkungan secara perlahan dengan skala besar. Walaupun dengan hadirnya program CSR yang telah dilakukan oleh PLTU Paiton, para peserta FGD merasa bahwa “umpan balik” tersebut tampaknya tidak sebanding jika menghitung dampak negatif yang telah diberikan kepada lingkungan. Pemahaman terkait praktik CSR dan perusahaan sering dikaitkan sebagai salah satu cara jitu yang dapat dilakukan oleh pihak perusahaan untuk menutupi beberapa tindakan ilegal, seperti pencemaran lingkungan atau tidak mentaati hak asasi manusia yang hidup di sekitar area perusahaan tersebut.

Kesimpulan

Maka dari itu, jika dilihat dari urgensi, sudah sepantasnya wacana kritis tentang energi terbarukan kembali hidup untuk ditinjau dan dianalisis, baik dari ranah akademis dan pemangku kebijakan di Pemerintah. Diperlukan transformasi energi di Indonesia dengan mulai memikirkan berganti dari energi kotor ke energi bersih. Penggantian itu tentunya tidak serta merta digantikan, tetapi perlu menghitung kembali kebutuhan masyarakat perihal energi. Energi masih menjadi salah satu kebutuhan masyarakat, tetapi akan menjadi sebuah hal yang mencemari atau merusak lingkungan, ketika energi tersebut digunakan secara berlebihan dan pengerukan sumber daya alam yang eksploitatif. Atas dasar tersebut, perlu melihat kebutuhan wilayah yang sekiranya tidak dapat diganggu gugat untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, sehingga dapat dilakukannya pemetaan wilayah pada daerah penggunaan dan pemanfaatan energi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Amster, E., & Lew Levy, C. (2019). Impact of Coal-fired Power Plant Emissions on Children’s Health: A Systematic Review of the Epidemiological Literature. International Journal of Environmental Research and Public Health, 16(11). https://doi.org/10.3390/ijerph16112008

Hamzah, L. A. (2019). Analisa Pengaruh Produksi Energi Listrik terhadap Konsumsi Bahan Bakar pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) NII Tanassa. Jurnal Fokus Elektroda.

Kompas.com. (2021, Januari 15). Banjir Kalsel, Meluasnya Lahan Sawit, dan Masifnya Pertambangan. Retrieved from www.kompas.com: https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/15/083100265/banjir-kalsel-meluasnya-lahan-sawit-dan-masifnya-pertambangan?page=all

Kravchenko, J., & Lyerly, H. K. (2018). The Impact of Coal-Powered Electrical Plants and Coal Ash Impoundments on the Health of Residential Communities. North Carolina Medical Journal, 79(5). https://doi.org/10.18043/ncm.79.5.289

Nurmayanti. (2019). Penampakan PLTU Paiton, Pembangkit Terbesar di Asia Tenggara Berumur Seperempat Abad. Jakarta: liputan6.com.

Rahma, A. (2020, Juli 30). Konsumsi Listrik Tumbuh 5.46% Persen Selama Pandemi Corona. Retrieved from liputan6.com: https://www.liputan6.com/bisnis/read/4318979/konsumsi-listrik-tumbuh-546-persen-selama-pandemi-corona

Sabubu, T. A. (2020). Pengaturan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Batubara di Indonesia Perspektif Hak atas LIngkungan yang Baik dan Sehat. Renaissance, 72-90.

Saputro, M. H. (2014). Analisis Anatomi Gerakan Kontra Rencana Pembangunan Megaproyek PLTU Kab Batang. Journal of Politic and Government Studies.

Schopf, J. M. (1956). A Definition of Coal. Economic Geology, 51(6), 521 – 527.

Siburian, R. (2015). “Emas Hitam”: Degradasi Lingkungan dan Pemarginalan Sosial. Jurnal PKS .

Zhang, Y., Wu, D., Wang, C., Fu, X., & Wu, G. (2020). Impact of coal power generation on the characteristics and risk of heavy metal pollution in nearby soil. Ecosystem Health and Sustainability, 6(1). https://doi.org/10.1080/20964129.2020.1787092

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *